Cerpen: Goodbye University Center

Agung memandangi gelas styrofoam yang berisi kopi di tangannya. Menghela nafas. Tempat duduk-duduk di university center ini mulai sepi. Agung terpaksa membeli kopi dari vending machine. Maklum, hari sudah mulai larut malam. Meskipun demikian, masih ada beberapa siswa yang sibuk dengan buku tersebar di meja. Minggu ini ujian-ujian akan usai. Kampus akan sepi lagi. Agung pun harus meninggalkan kampus ini.

Lima tahun yang lalu, ketika pertama kali masuk ke kampus ini, university center ini yang pertama kali dituju Agung. Kala itu dia kelaparan dan kata orang-orang, tempat makan yang banyak pilihannya ada di university center ini. Memang di sini ada berbagai jenis makanan, mulai dari sandwich, pizza, salad, french fries, sampai ke makanan yang agak berat. Kalau makanan yang agak berat ini disajikan di restoran di atas. Sementara yang lainnya tersedia seperti counter fast food saja.

Waktu-waktu selanjutnya, university center ini menjadi tempat yang sehari-hari dikunjungi oleh Agung. Sebetulnya dia lebih sering ke bookstore untuk sekedar melihat-lihat buku baru, mengamati daftar isinya, membaca beberapa bagian dari buku tersebut. Kadang-kadang dia ke sana untuk membeli kaos, gantungan kunci, atau cindera mata yang berlabel universitas jika ada kawan datang dari Indonesia. Harganya memang lebih mahal dibandingkan dengan kaos yang di beli di luar. Tapi di toko di luar kampus tidak ada kaos atau sweater yang berlogo universitas. Kadang-kadang Agung berpikiran bahwa universitas ini terlalu komersial. Tapi itulah mekanisme pasar.

Agung meraba-raba cincin yang baru dikenakannya. Sebagai bagian dari tradisi di universitas ini, lulusan engineering mendapat cincin universitas sebagai kenang-kenangan. Cincin ini dibuat dari besi yang khusus dengan logo universitas di permukaannya. Rasanya masih belum terbiasa mengenakan cincin ini. Terasa gatal dan kulit memerah.

Dari pintu masuk Utara terlihat Bob dan Megan datang. Agung melambaikan tangan untuk memberi tanda. Tanpa melambaikan tanganpun sebetulnya mereka dapat melihat Agung.

“Hey, how are you doing, man?”, Bob menyapa. Agung mengangkat bahunya.
“Not bad, I guess”.

Megan mengambil tempat duduk di depan Agung, sementara Bob duduk di sebelahnya. Kemudian terdiam sesat. Situasi sebetulnya agak kaku juga. Akhirnya Bob tidak tahan dan beranjak. “Do you want another cup of coffee?”. Agung mengangguk.

“So, this is it, eh?”, Agung membuka pembicaraan. Megan mengangguk-angguk sambil jarinya memainkan ujung lengan jaketnya.

“Are you going to write me a letter?”, Megan bertanya.
”You mean, like, a real letter with stamps and that?”
”Yeah, if you want to”
”I’ll write you emails”

… sepi …

“How long are you going back?”
”I’m not sure. I want to teach there.”
”Can’t you teach here?”
”Yes, I can. But …I don’t know. I don’t feel right leaving my people like that. I have to give it a try first. Why don’t you visit me?”
”I got to finish my degree first. I’ll visit you. Or… maybe work there too.”
Mata Agung ikut berbinar.

Di university center inilah pertama kali Agung mengenal Megan. Secara tidak sengaja mereka bertubrukan ketika membeli kopi. Maklum kala itu masih pagi dan banyak mahasiswa yang terburu-buru masuk ke kelas. Sebagian mampir dulu ke kedai kopi untuk membeli kopi. Kelas pagi memang paling berat karena banyak yang masih mengantuk. Orang percaya bahwa kopi bisa membuat orang menjadi tidak mengantuk. Ketika Agung hendak berlalu dengan secangkir kopi tangannya tidak sengaja tersenggol Megan. Sebagian kopi pun tumpah ke tangannya.

“Oh, shit!”
”Ooops. Sorry. I am so sorry” kata Megan.
”That’s ok.”
”I’ll buy you another one.”
Agung melihat antrian yang agak panjang. Wah, bakalan telat masuk kelas kalau harus antri lagi.
”I am in a hurry. You’ll buy me one next time”, kata Agung sambil bergegas dan melambaikan tangan.
”Hey, I’ll be here for lunch.”
”Okay.”
Siang itu Megan membelikan Agung lunch. Mulai dari saat itu mereka sering berjalan bersama. University center ini memang banyak memberikan kenangan kepada Agung.

Bob datang kembali, “The machine is broken. Let’s find a place somewhere.” Mereka beranjak. Sambil berlalu Agung sekali lagi memandang sekeliling university center itu. Memory flashes by …

[to be continued]
[/bbr - March 2002]