Tragedy of the common oleh: Budi Rahardjo Mengendarai kendaraan di jalan (di Bandung misalnya) dan jalan raya merupakan suatu pekerjaan yang menyebalkan dan menimbulkan stress. Banyak pengemudi yang menyodok, buru-buru saling sodok mengambil jalur kosong. Bahkan seringkali ketika jalur sedang macet, pengemudi mengambil jalur yang semestinya tidak boleh dilalui olehnya, seperti bahu jalan atau bahkan jalur arah yang berlawanan! Seolah-olah hanya dia saja yang penting dan harus cepat sampau tujuan. Kondisi ini makin memburuk. Kesabaran semakin turun. Gejala apakah ini? Jika hal ini tidak terobati maka akan menjadi suatu kebiasaan (kultur) yang dianggap lumrah oleh generasi muda. Kondisi yang disebutkan di atas dijelaskan oleh cerita yang dikenal dengan nama "tragedy of the common". Begini ceritanya. Di sebuah tempat antah berantah ada sebuah padang rumput yang subur ditumbuhi oleh rumput yang hijau. Setiap hari kumpulan ternak milik petani (peternak) datang ke ladang tersebut untuk merumput. Setelah padang rumput didatangi dan rumput dimakan, sebagian padang berubah menjadi lumpur. Dibutuhkan waktu agar rumput tersebut tumbuh kembali dan proses ini membutuhkan waktu lebih dari satu hari. Hari berikutnya kejadian yang sama berulang kembali dengan tempat yang sedikit berbeda. Jika padang rumput tersebut sangat luas, sehingga sebelum seluruh rumput habis dimakan sudah tumbuh rumput baru yang siap dimakan, atau dengan kata lain kecepatan konsumsi lebih kecil atau sama dengan kecepatan pertumbuhan kembali rumput, maka situasi ini tidak menjadi masalah. Masalah timbul jika luas padang sangat terbatas. Agar tidak kehabisan rumput dan menghadapi lumpur, maka para peternak tersebut berebut saling mendahului untuk sampai ke tujuan. Timbullah saling rebut (sodok) yang menyebabkan situasi tidak sehat. Inilah yang terjadi di jalan raya di Bandung saat ini. Masyarakat (common) mengalami hal yang tragis, tragedy of the common. Lantas solusinya bagaimana? Ada beberapa pendekatan yang bisa ditempuh. Salah satunya adalah mengkapling-kapling padang rumput tersebut. Ini solusi kapitalis. Cara lain adalah mengangkat seorang ketua yang kemudian mengatur penggunaan padang rumput. Ini solusi sosialis. Ada solusi lain yang merupakan kombinasi. Solusi untuk kekacauan di jalan Bandung mungkin tidak semudah pengelolaan rumput. Namun dengan dikenalinya model permasalahan tersebut mudah-mudahan daoat ditemukan solusi atau pendekatan yang lebih gamblang. Mungkin juga tidak. Mungkin kita harus menghadapi tragedi demi tragedi.